Ruang Kecewa dan Ikhlas
Aku berjalan selama 35 tahun, dan aku menyadari bahwa aku sering tidak konsisten. Maka aku menjadi doa sebagai alat bantu. Kenapa begitu? Karena aku hanya manusia biasa dan sering berubah-ubah. Dan Allah Yang Maha Mengetahui apa-apa yang akan terjadi, apa yang telah terjadi dan persiapan untuk menjadi. Aku sering bertanya kenapa orang lain mendapatkannya sedangkan aku tidak. Aku sering takut jika iri hati menjalar dan menutup hati aku sehingga buta mata hati untuk melihat nikmat lainnya. Aku takut itu menjadi musyrik kecil terhadap takdir Allah. Jadi aku berdoa.
Suatu hari, aku berucap kepadanya
"Bisa jadi, penundaan Allah akan rezeki adalah rezeki itu sendiri. Contohnya saat seseorang tidak diberikan rezeki untuk menikah. Maka sejatinya bisa jadi Allah menghindari diri kita untuk melakukan kedzoliman terhadap tanggungjawabnya kepada pasangannya."
Dia tidak setuju, namun masih ragu. Dia meminta waktu agar bisa menanyakan perihal ini kepada gurunya yang dirasa lebih ahli. Aku tersenyum saja.
"Bisa jadi, penundaan Allah akan rezeki adalah rezeki itu sendiri. Contohnya saat seseorang tidak diberikan rezeki untuk menikah. Maka sejatinya bisa jadi Allah menghindari diri kita untuk melakukan kedzoliman terhadap tanggungjawabnya kepada pasangannya."
Dia tidak setuju, namun masih ragu. Dia meminta waktu agar bisa menanyakan perihal ini kepada gurunya yang dirasa lebih ahli. Aku tersenyum saja.
Dan di lain kesempatan, aku mengunggah sesuatu lewat konten melalui "cerita" yang isinya mendukung statement sebelumnya.
"Dua orang yang saling mencintai, namun tidak ditakdirkan menikah bukanlah sebuah kegagalan namun bentuk rahmat Allah"
Seketika dia merespon dengan cerita lain pada akun sosial medianya. Aku pahami bahwa itu adalah bentuk kekecewaan sebagai seorang manusia. Namun tidak lebih dari apa-apa yang aku asumsikan dia mengerti. Dan tidak mengartikan bahwa hubungan kami gagal. Aku hanya ingin membuat sekat-sekat pada hatiku menjadi sebuah ruangan yang disebut dengan ruang ikhlas dan kekecewaan.
kekecewaan terhadap manusia juga harus diberikan ruang, kenapa? karena manusia hanyalah manusia yang mempunyai sifat lalai dan juga khilaf. Allah Maha Mengetahui atas apa-apa yang telah ditakdirkan, maka apa-apa yang Allah hilangkan, Allah tunda, Allah akan ganti dengan hal-hal baik yang akan datang. Dan kebaikan besar yang datang itu butuh ruang khusus. Semoga kamu paham, dan semoga semua retak kamu tumbuh bunga yang harum dan semerbak memancarkan indahnya ya.
Aku sayang atas semua hal-hal baik yang akan dilimpahkan kepada kamu, aku selalu berdoa untuk itu.

Komentar
Posting Komentar