Tidak Berpergian






Ada dua cerita menarik, tapi untuk kali ini aku akan menulis tentang sebuah larangan. Aku sangat paham bahwa diri ini keras kepala. Seringkali, ummi dan abi melarang untuk berpergian sendirian. Dan kali ini hobi berpergian itu juga dilarang oleh Rizky. Aku hanya butuh jawaban logis kenapa seorang perempuan harus pergi bersama mahramnya. 

Malam itu sepanjang jalan seperti anak kecil aku dinasehati. Tapi bersyukurnya masuk telingan kanan, dan berhenti di akal. Kali ini tidak ada penolakan karena sifat awal pembicaraan ini berupa diskusi terbuka. 

"Kamu ngerasa pas pergi ke bukit sendirian kemarin itu kerenkah?" dia bertanya. Nadanya mulai mengintimidasi. Aku mulai menarik diri sebenarnya tapi tetap mendengarkan. 

"Enggak, cuma aku suka hijau-hijau aja. Dan point perginya bukan pengen keren." aku berkilah 

"Kamu tahu enggak, kalo itu berbahaya? Kamu tahu enggak kalo di luar sana tidak aman untuk seorang perempuan? Kamu udah baca berita terbaru kalo ada perempuan yang diperlakukan senonoh oleh pria dan itu kejadiannya di bukit." 

Aku hanya bisa diam karena berarti ada yang salah dengan kegiatan itu. Kegiatan mendaki bukit yang aku lakukan itu kedua kalinya karena awal mendaki bersama kawan sehingga sudah bisa menakar baik trail, kondisi, serta cuaca yang mungkin terjadi. Jadi menurut sependek pemikiran itu tergolong aman. 

Dia melanjutkan ucapannya "Aku gak bisa mastiin kamu akan baik-baik aja selama di sana loh. Kalo terjadi sesuatu ke kamu, dan membuat kamu hancur, jujur itu juga akan bikin aku hancur. Aku ngerasa gagal buat jagain kamu."

Kembali hening karena lagi lagi aku memilih diam mendengarkan. Ada baiknya diam saat dinasehati bukan? 

"Sudah berulang aku bilang, kalo tenaga pria itu jauh lebih besar dibanding wanita sejago apapun dia latihan fisik. Aku sudah sering juga mengingatkan kalo ada hal-hal yang membuat kamu dalam kondisi bahaya, baiknya dihindari." 

Kamu tahu, aku kembali terdiam. Dan semua itu fakta. Dia mengemukakan pendapatnya hasil pengalaman hidup di lapangan yang tidak mudah. Bahkan kata-katanya serupa dengan kisah nabi Musa yang dimintakan tolong untuk mengambil air dari sumur oleh dua orang gadis. Pada surat al qasas ayat 24 dikisahkan bagaimana lemahnya seorang perempuan dibandingkan pria secara fisik. 

"Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku." 

Setelahnya pun nabi Musa diundang untuk mendatangi rumah dari kedua gadis tersebut. Dan gadis tersebut berucap kepada sang ayah yang diteruskan pada ayat ke 26. 

"Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya." 

Maka sejatinya, sebaik-baiknya perempuan juga yang paling paham dan bisa menakar kadar kemampuan sehingga tidak mendekatkan diri kepada kejahatan. Sekali lagi, kejahatan bisa terjadi bukan sekedar dari motif namun adanya kesempatan. Semuanya kini terasa masuk di akal sehingga lagi-lagi aku kalah dan memilih untuk tidak pergi kecuali ditemani. Terima kasih 



Komentar

Postingan Populer