Saving
Sebuah video menjadi trigger tulisan kali ini. Issue yang dibahas oleh speaker dari video tersebut adalah "mulailah dengan saving". Bagi yang belum tahu apa arti saving, menabung. Beberapa solusi untuk mendapatkan keuntungan adalah dengan membeli barang dalam jumlah lebih banyak sehingga harga beli jauh lebih murah dibandingkan jika membeli barang dalam jumlah satuan. Contohnya, popok bayi yang biasa dibeli di warung-warung secara ecer bernilai 1.900. Sedangkan jika kita membeli popok bayi dengan jumlah besar, satuannya bisa terhitung 1.600. Maka kita sudah mendapatkan selisih 300. Tanpa kita sadari, nominal tersebut jika dikumpulkan, tentu saja lebih banyak dan bisa ditabung. Kita diminta untuk menahan pengeluaran yang tidak diperlukan contohnya, kemampuan kita untuk travelling atau jajan harian yang tidak terarah.
Oke mari, kita bahas secara ekonomi Islam secara pandangan diri sendiri. Tentu saja sifatnya subjektif. Solusi tersebut mungkin cocok untuk elemen masyarakat dengan level menengah ke bawah. Siapa mereka? Mereka yang punya kemampuan untuk memilih destinasi wisata sebulan sekali, mereka yang punya pilihan makan harian dari brand ayam A atau ayam B, mereka yang punya kemampuan untuk memilih moda berangkat kerja. Namun solusi tersebut, tidak berlaku untuk masyarakat dibawah garis kemiskinan. Mereka yang rata-rata punya kemampuan pendapatan dibawah 50 ribu perharinya. Miris, tapi banyak sekali jumlahnya di Indonesia.
Berdasarkan pengkategorian miskin di Indonesia yang ditentukan oleh BPS, garis kemiskinan di Indonesia sebesar 609.160 per bulan. Atau jika dirata-rata total pengeluaran setara dengan 20.305 per hari. Dengan jumlah pengeluaran harian sebesar itu, maka kebutuhan pembelian popok dengan harga 1.600X30 pcs (misalnya) =48.000 sudah pasti dinilai mahal oleh customer. Untuk pemenuhan kebutuhan tersebut, mereka sanggup membeli barang harga satuan dengan harapan masih ada sisa untuk pembelian kebutuhan lainnya.
Maka, solusi menabung tentu saja tidak berlaku untuk seluruh individu. Untuk kelas dibawah garis miskin, sudah menjadi tanggungjawab negara. Karena semakin lama tanpa terasa, mereka dimiskinkan oleh keadaan. Disinilah fungsi negara yaitu menjadi pengayom yang bertanggungjawab untuk mengentaskan kemiskinan pada lapisan masyarakat tidak berdaya. Itu mengapa kebijakan khusus dibutuhkan dan tidak bisa disamaratakan.
Lalu bagaimana menabung di kacamata Ekonomi Islam?
Di Islam, menabung tidak disebutkan secara harfiah namun ada ayat yang diterjemahkan seperti yang tertera pada ayat yusuf ayat 47-49 yang diperintahkan untuk menyimpan hasil bumi untuk masa paceklik yang akan datang. Atau terjemah ayat dari surat Al Hasyr ayat 18 yang kurang lebih kita diminta untuk memperhatikan apa yang dikerjakan karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan (akhirat). Untuk hukum dari menabung sendiri, diperbolehkan terutama jika kita menyadari sifat boros yang dimiliki. Dalam islam sifat boros juga dilarang, karena segala sesuatu akan dihisab dan diminta pertanggungjawabkan. Maka sebagai muslim, kita dianjurkan untuk mempersiapkan segala sesuatu dengan baik, namun tidak berlebihan.
Kembali menyoroti video tersebut, komennya memicu untuk mendekati hal-hal bersifat kufur. Di akhir zaman, pemikiran bahwa, "ada Allah Yang Maha Pemberi Rezeki" dipertanyakan dan diragukan. Efek samping dari pernyatan tersebut adalah pemikiran bahwa, "kenapa ekonominya rendah sudah berani berumahtangga?" maka pernyataan tersebut menjadi momok menakutkan untuk mendirikan apa-apa yang menjadi sunnah Rasul. Nyatanya, hewan melata dijamin oleh Sang Pencipta, bahkan daun yang jatuh atas izin Allah, serta jika kita melihat ke langit bagaimana Allah sudah mengatur tinggi terbangnya burung tanpa penopang.
اَوَلَمۡ يَرَوۡا اِلَى الطَّيۡرِ فَوۡقَهُمۡ صٰٓفّٰتٍ وَّيَقۡبِضۡنَؕ ۘ مَا يُمۡسِكُهُنَّ اِلَّا الرَّحۡمٰنُؕ اِنَّهٗ بِكُلِّ شَىۡءٍۢ بَصِيۡرٌ
Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pengasih. Sungguh, Dia Maha Melihat segala sesuatu. (QS. Al Mulk 19)
Khawatirlah secukupnya, lakukan semampunya, lakukan sebaik-baiknya, hindari pemborosan, dan berdoalah. Karena senjatanya orang beriman adalah doa. Semoga kita senantiasa terhindar dari sikap-sikap yang mendekati kekufuran yang menyebabkan kita mempertanyakan dimana letaknya iman. Semoga kita juga teguh atas agamaNya, taatNya. Amiin ya rabb.
Akhir kata, wallahu 'alam bishowab.
Akhir kata, wallahu 'alam bishowab.

Komentar
Posting Komentar