Month Journey, January
Part 1, Missing
Saat itu, aku memulai dengan memanggil asmaNya yang Maha Besar dengan gerakan ritual. Biasanya aku melakukan itu seperti automatis gerakan wajib. Tidak salah. Karena gerakan takbiratul ihram menjadi rukun shalat. Namun sejenak jika kamu melakukannya perlahan disertai tuma'ninah, maka terasa perbedaannya. Itu seperti pernyataan dengan gerakan "bahwa aku adalah hambaMu yang mulai menyapa dengan asma'Mu Yang Maha Besar"
Seketika, hati menghangat seperti pertama kali jumpa. Setelah sekian lama tak bersua. Melepas rindu itu nyata adanya. Ternyata benar, bahwa berjalan aku mendekat, Dia berlari mendekap.
Setelahnya, rukun wajib adalah membaca surat alfatihah. Layaknya berbincang dengan Dzat Penyayang, aku lirih melafalkannya. Ada malunya jujur. Terutama saat membaca "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." Allah seperti menarik lebih dekat dan bertanya, "Bagaimana harimu? Beratkah?" Tariklah nafas perlahan dalam-dalam karena disapa dengan Dzat terkasih tak pernah sama.
Jika kita menelisik lebih jauh, kalimat selanjutnya adalah kalimat pujian kepada Allah atas pertanyaan tersebut. "Segala puji bagi Allah, Robb Pemilik alam semesta". Sama seperti jika kita ditanyakan kabar oleh seseorang, secara tidak sadar mengucapkan alhamdulillah.
Yang menariknya, Allah menyapa kita dan mempertanyakan kondisi kita lebih dari siapapun di dunia ini. 5 kali dalam solat wajib, dengan 27 rakaat. Akhirnya aku menemukan jawaban kenapa surat Al Fatihah menjadi rukun solat. Ya Allah, sebegitu indahnya kah engkau mengenali hambaMu yang hina ini? Lebih sering lupa dan lengah. Diberikan ruang untuk bersandar dan mengeluh dengan pertanyaan lembutMu, "Bagaimana harimu?"
Maka tak pernah aku temui tempat bersandar yang lebih kokoh dibandingkan saat berbincang denganNya saat solat. Seketika aku tersadar, bahwa aku yang menjauh dan aku rindu. Dan Allah seperti mendekap lebih erat dan berkata, "Jangan khawatir, TuhanMu yang kamu sembah lebih dari apa-apa yang di langit dan di bumi. Aku mudah untuk menjadikan yang tiada menjadi ada, yang mustahil menjadi nyata, dengan kalimat "Kun fayakun". Maka sejenak, kamu ceritakan padaKu tentang keluh kesahmu wahai hambaKu yang melampaui batas."
Tertanda dari aku, hambaMu yang ternyata rindu

Komentar
Posting Komentar