Kisah sumber air abadi sepanjang masa

Wahai Tuhanku, belakangan ini air mataku kerap menggenang. Terutama saat aku teringat bahwa kesedihan, kekecewaan, kekhawatiran aku penting untukMu. Di saat makhluk ciptaanMu mengurus urusannya, hanya Engkau yang memastikan segala urusanku terselesaikan. Saat aku merasa sedih dan sebagian manusia menganggap itu bentuk "berlebihan" di saat yang sama, Engkau menyediakan tempat untuk mendengar. Bukan di posisi tinggi, namun berada di posisi terendah yaitu sujud. Rasa-rasanya, isi kepala dan bebannya turut runtuh seketika. Aku banyak berbicara, meminta dan aku yakin suatu saat doa-doa itu menjadi tabungan yang berbentuk nyata. Wahai Tuhanku, sungguh aku yakin bahwa tidak pernah Engkau luput dari janjiMu. 

Wahai Tuhanku, salah satu anugrah yang Engkau titipkan padaku adalah kemampuan mengerti beberapa kosakata dalam bahasa Arab. Itu sangat membantuku untuk mengerti surat-surat bahasa cintaMu baik saat seseorang berucap, saat seseorang membawanya pada solat, atau saat diperdengarkan menggunakan pengeras suara. Setiap kali itu juga aku diingatkan bahwa Engkau ada dimana-mana. Di setiap gerak-gerik, aku tidak pernah merasa sendiri. Setiap perkara yang terjadi pada kehidupanku, dan pertanyaan di kepalaku, kerap mendapatkan penjelasan. Sehingga aku jauh lebih tenang. 

Seperti saat itu. Aku tidak mengerti kenapa seorang ayah meninggalkan keluarganya. Aku pendam dan hanya bertanya-tanya dalam diam. Atau saat seseorang meninggalkanku tanpa ada penjelasan. Aku diam dan berhenti bertanya-tanya. Aku hanya mengadukannya pada Engkau. Hingga suatu saat video Usth Aisyah Dahlan di podcastnya dengan Deni Sumargo berkata, "Laki-laki itu berdiskusi hebat dengan dirinya. Dia banyak diam, namun bising pada kepalanya. Bukan tidak perduli, tetapi dia tidak mengeluhkan perkaranya hingga menemukan solusi. Karena sejatinya laki-laki adalah qawwam. Dia tidak berani membebani seseorang yang disayanginya.

Lalu malam kemarin, ibuku berkata hal serupa. 
"Sudahkah kamu menghubungi ayah? Sudahkah kamu ketahui bagaimana kondisinya? Bagaimana tidur dan makannya hari ini?" 

Tentu, aku masih marah. Banyak yang aku pendam, namun aku tidak pernah berani mengutarakannya pada dunia. Sehingga aku lebih memilih diam hingga apiku padam.

"Bagaimana jika ayah adalah seseorang yang paling banyak menerima luka, namun ia tidak pernah menceritakannya? Ia hanya melindungi keluarganya dengan caranya. Walaupun itu adalah cara paling pengecut. Beliau memendamnya sendirian agar kamu tidak tahu pahitnya dunia." 

Aku mendengarkan cerita ibuku panjang lebar. Airmata masih sanggup aku tahan. Di saat yang sama, aku kembali diingatkan dengan kisah Nabi Ibrahim dengan istrinya yang bernama Siti Hajar yang tercatat pada surat Ibrahim ayat 37. 

Di saat itu, Siti Hajar bersama dengan Ismail diminta untuk pergi ke lembah yang tandus. Di sana Siti Hajar ditinggalkan oleh suaminya yaitu Nabi Ibrahim. Siti Hajar bertanya kepada nabi Ibrahim mengapa ia ditinggalkan di tengah lembah tandus itu hanya berdua saja. Tanpa air tanpa makanan. Jelas, itu disangka penelantaran. Tapi Siti Sarah yakin bahwa suaminya melakukan hal itu karena hal-hal baik yang belum diketahuinya. Maka Siti Sarah bertanya, "Apakah ini perintah Allah?" baru setelahnya Nabi Ibrahim menjawab, "benar!" Dan setelahnya, berhentilah Siti Sarah dari bertanya-tanya. 

Maka itulah latar belakang mengapa ayat tersebut turun. Sebagai laki-laki kerap dibuat berada di persimpangan. Mereka diam. Bukan untuk menelantarkan, namun bentuk sayang. Bentuk sayang tidak berupa kata-kata namun, tindakan nyata. 

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan salat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur." Q.S Ibrahim: 37

Dua orang yang sama-sama saling mencintai, maka Allah satukan dalam bentuk cinta yang paling suci. Tercatat bahwa keduanya saling mendoakan di ayat quran dan diberkahi dalam bentuk air zam-zam yang manfaatnya masih terasa. Benar kata orang-orang zaman dahulu bahwa jarak tidak berarti untuk kedua hati yang saling jatuh cinta. Semoga Engkau berkenan menjaga hati-hati mereka yang bermohonkan keridhoanMu. Amiin ya rabb

Komentar

Postingan Populer