Tanah Para Nabi Kembali Dibanjiri Darah Segar Para Syuhada
Beberapa waktu lalu, Palestina tepatnya di Gaza terjadi genosida yang menewaskan beribu nyawa tak bersalah dengan dalih serangan balasan atas apa yang telah dilakukan oleh kelompok Hamas. Rumah sakit yang diserang adalah satu bukti bahwa nyawa manusia tidak lagi dinilai. Alasannya sangat murahan, karena salah target sasaran. Padahal secara jelas negara penjajah itu mengetahui detail peta serta lokasi yang berada di wilayah Gaza secara utuh. Anak-anak yang tidak bersalah, wanita yang sedang hamil, para medis, juru media dan para warga lainnya menjadi korban kebrutalan serta keserakahan dari zionis.
Sepanjang perjalanan, sebelum tidur semua tangisan ketakutan anak-anak masih nyaring sekali terdengar. Rintihan kesakitan dari luka-luka para korban masih saja terlintas bahkan saat saya bisa makan dengan tenang dan nyaman. Jeritan minta tolong itu juga masih saja menjadi nyanyian yang sering saya dengar melalui postingan di sosial media. Rasanya tak sanggup. Namun tidak dengan suara-suara warga Gaza yang ditanya bagaimana keadaan mereka, dengan lantang mereka tetap ucapkan alhamdulillah. Betapa jauhnya tingkat syukur dan keimanan saya pribadi.
Maka muncul setelahnya pertanyaan,
Mungkinkah, ini teguran dari Allah melalui saudara-saudara kita di Palestina? Cara teguran Allah ini sangat lembut dan membuat saya malu. Bagaimana keimanan warga Gaza yang enggan meninggalkan tanah kelahiran mereka. Tanah di mana banyak Nabi, Rasul, Sahabat maupun cendikiawan yang lahir di sana. Mereka berjuang agar tanah yang dirahmati Allah tidak jatuh ke tangan Zionis. Mereka rela berkorban dengan darah, nafas dan tubuh mereka. Tiada gentar saat musuh Allah mempunyai persenjataan yang mutakhir, mereka tetap maju pada garis terdepan. Karena keimanan yang menancap pada tiap-tiap insan di sana, karena keyakinan mereka yang amat sangat kuat bahwa Allah akan terus bersama orang-orang yang benar. Ibadah yang seharusnya ditinggalkan karena rukhsoh, mereka tetap taat di tengah keadaan yang luluh lantah.
Di saat yang sama, di wilayah lain kita diberikan kehidupan yang sangat nyaman. Listrik, air, internet dan makanan sangat mudah kita dapatkan. Namun kerap kali kita lalai dan lengah. Keimanan kita kerap naik dan banyak turun. Banyak hal haram yang sudah dinormalisasi. Aib beberapa individu oleh Allah sudah ditutup namun sengaja dibuka ke ranah publik. Banyak waktu senggang saat panggilan Allah berkumandang, namun sedikit sekali telinga yang mendengar dan patuh atas panggilannya. Kita kerap bermain dengan jeda dengan alasan masih ada waktu. Di tanah ini kita dengan mudah untuk mengakses ilmu agama atau menghafal ayat-ayat cinta Allah namun kita masih sukar sekali untuk melakukannya. Maka benar teguran Allah kepada orang-orang munafik
"Maka nikmat Tuhanmu manalagi yang kamu dustakan?"
Naudzubillah. Lewat Palestina dan pejuang kemenangan di Gaza kita diminta banyak belajar arti rasa berani. Mereka tidak pernah takut akan kekurangan hari esok, karena bagi mereka bisa hidup di hari esok merupakan rezeki yang tidak bisa ditandingi. Bagaimana dengan generasi saat ini dengan trend bunuh diri? Bukankah kehidupan kita jauh lebih mudah dibanding mereka yang berada di sana? Bukankah Allah sudah menakar kemampuan setiap hambaNya? Bukankah orang-orang yang bunuh diri amat sombong dikarenakan lebih mengetahui kemampuannya dibanding sang Pencipta? Bukankah segala sesuatu Allah ciptakan dalam kadarnya?
Dari saudara kita di Palestina dan pejuang kemenangan di Gaza kita diminta belajar arti dari keberanian selama keimanan masih tertancap, maka tidak ada kata damai untuk mereka yang hendak merebut tanah lahirnya. Mereka menjujung tinggi kata Laa ilaha illa Allah sebagai busur yang menghujam hati-hati orang kafir. Karena dalam peperangan bukan hanya fisik yang kuat atau canggihnya senjata saja, namun keyakinan bahwa pertolongan Allah lahir dari keimanan. Maka iman orang-orang di Palestina dan pejuang kemenangan di Gaza sangat di luar nalar dan tidak bisa dijamah oleh manusia yang tak beriman.
Tidak mungkin musibah yang dihadapi oleh saudara-saudara di Palestina disebabkan oleh diri mereka sendiri. Muslim satu dengan muslim lainnya diibaratkan satu jasad, yang apabila satu sakit maka yang lain ikut sakit. Musibah merupakan teguran atas tindakan yang melampaui batas, mungkinkah Palestina menerima musibah dikarenakan dzolim saudara lainnya yang sudah melampaui batas?
Wallahu alam bishowab, semoga kejadian yang terus menerus di Palestina bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua. Agar kita bisa mengambil pelajaran dan peringatan agar kembali pada syariat. Agar hati hati kita kembali teguh atas keimanan kepada Allah.
Allahumma anshurnaa ikhwanal muslimin fii falesthinaa.
Jalan-jalan itu sudah tidak bisa dilewati kendaraan mengingat bangunan yang runtuh menutup jalanan. Namun di sepanjang jalannya, harum semerbak dari dari segar para syuhada. Selamat jalan, doakan kami agar bisa mengikuti jejak langkah kalian di bagian bumi Allah lainnya untuk menegakkan agama Allah.

Komentar
Posting Komentar