Part 7, 5 Kekuranganku
Seharusnya tulisan ini ditulis pada hari ke 5. Namun ternyata aku melupakan bagian kekurangan yang dimiliki.
Beberapa waktu lalu, aku sempat jatuh dari motor. Selama kurang lebih 3 minggu aku mengurangi kegiatan fisik terutama hal-hal yang berkaitan dengan kaki. Selama itu juga aku seringkali mengeluh sakit. Bahkan ibuku sempat berujar, "kalo kata orang sunda teh, jejerih". Tapi aku akan memberikan dalih bahwa yang luka memang tempat banyak pergerakan alias dengkul jadi wajar prosesnya lebih lama. Dari situ aku paham bahwa aku terlalu manja dari hal-hal pahit yang terjadi dan mungkin akan terjadi.
Karena aku terlalu manja, kerap sekali hal-hal yang aku kira berat itu menandahkan sulit. Padahal segala sesuatu yang baru saja dimulai, maka butuh penyesuaian. Butuh kesabaran dan ketelatenan hingga berhasil. Jika saja, penemu KFC menyerah di percobaan 50 kalinya, mungkin saat ini outletnya tidak lagi kita temukan. Aku kerap mengeluh sulit, namun bukan berarti aku berhenti mencoba. Akan tetap aku kerjakan walaupun dihiasi tangisan.
Aku adalah orang cukup loyal dengan love language, receive gift. Maka aku seringkali memberikan barang-barang atau hal-hal yang menurutku menarik untuk orang terdekat. Namun kerap kali itu dianggap pemborosan, padahal dengan melihat senyum orang tersebut, aku ikut merasa bahagia. Efek samping dari itu adalah aku sulit mengatur keuangan. Dan tentu aku butuh rem untuk mengendalikan itu.
Aku cukup acuh dengan sekitar terutama pada hal-hal yang menurutku tidak menarik. Aku seringkali hal-hal tersebut masuk akal terlebih dahulu sehingga aku merasa itu prihatin. Padahal, banyak hal-hal yang memprihatinkan jauh dari rasional.
Satu lagi, aku sulit jatuh cinta. Itu kekurangan terakhir yang aku rasakan. Karena aku tidak punya sosok, jujur aku tidak tahu mana pasangan yang baik mana yang tidak. Sehingga aku lebih memilih sendiri daripada harus menghabiskan waktu untuk mempertanyakan apakah sosoknya cukup baik menjadi pasangan atau tidak.

Komentar
Posting Komentar