Part 11, Cerita Singkat

Hari ini akhirnya iklan yang aku pasang di salah satu platform menemukan calon tuannya. Kamu tahu seberapa bahagianya? Tentu aku sangat bahagia. Karena dengan sadar aku mengajukan sebagai salah makelar dari orang yang membutuhkan pemasaran produk yang ingin dijual. Dan dia mengizinkan aku memasarkannya dengan niatan ada selisih harga sebagai labaku.

Namun ternyata, produk tersebut masih dipergunakan sehingga aku belum bisa bertemu dengan calon pembelinya. Inti dari pemasaran adalah komunikasi yang baik sehingga memunculkan kepercayaan. Batalnya pertemuan kami, tentu saja aku informasikan kepada calon pembeli. Sedikit kecewa tapi aku yakin bahwa jika memang rezeki sudah diatur dengan baik oleh Allah. 

Seketika ibuku yang mendengar pembatalan dari pihak yang membutuhkan pemasaran, beliau menyarankan untuk tidak lagi dikomunikasikan. Jujur ini membuatku sedih, karena untuk mengumpulkan uang yang terbilang receh aku harus melakukan pemasaran di beberapa platform milikku. Melakukan negosiasi, mempunyai komunikasi yang baik, aktif dalam membangun komunikasi dan sebagainya. 

"Kenapa sih ngoyo banget nyari uangnya." ujar ibuku menimpali

Pertama aku masih diam karena tidak mau memperpanjang masalah.

"Kalo ummi sih gak mau segitunya. Hidup cuma gini-gini aja udah cukup. Yang penting berkahnya Allah." 

Jelas hati kecilku bergumam hingga tercetus melalui bibirku. 

"Loh, memang harus dikejar, hidup ini bukan semuanya tentang uang. Tapi untuk hidup butuh uang." 

"Ummi makan se-liter aja cukup. Kamu kalo jajan banyak dan uangnya habis. Ummi mah gak habis. Orang kok ngoyo banget." Ujar ibuku lagi 

Aku tersenyum sinis. 

"Loh kok kesel? Padahal aku gak minta uang ke ummi loh buat tambahan. Semuanya aku kerjain sendiri. Kenapa aku merasa ummi paling suci dan cara hidup ummi paling benar ya?" aku kembali menjawab. 

Kerap kali aku mengabaikan perasaan ingin punya usaha sendiri atau meniti karir di tempat lainnya dan menggantinya dengan mengharap ridho Allah. Aku kerap sekali mengabaikan perasaan tidak nyaman ini dan menggantinya dengan senyuman yang aku paksa. Kadang kita membenci sesuatu namun menurut Allah itu baik, begitu sebaliknya. 

Tapi jujur aku juga kerap harus keras pada pendirian karena aku hidup untuk hari ini dan esok. Maafkan aku sering keras pada ummi, karena aku manusia biasa yang mempunyai tujuan dan mimpi. Aku sangat berharap ummi bisa mengerti bahwa setiap dari insan itu wajar bertentangan. Wajar jika jalan dan pendapatnya tidak selalu sama dengan orang lain. Sangat tidak mungkin mengimplementasikan jalan hidupnya pada jalan hidup anaknya. Dan aku memiliki keinginan yang tidak mungkin beliau penuhi sepenuhnya, maka aku harus berjuang untuk itu sendiri. Cukup dukung dan doakan agar semuanya berjalan baik-baik saja. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer