Part 1, Benar-Benar Merasakan Hidup, Kembali

 


Judulnya agak menyeramkan, jadi mari kita mulai saja kisahnya. 

Sore itu, tanah Bogor basah. Rahmat dari Allah turun di waktu yang telah ditentukanNya. Bahkan jumlah setiap mili air yang jatuh, sudah Dia takar dengan sebaik-baiknya. Langit masih kelabu, pertanda hujan baru saja usai. 

Diri ini seringkali berpacu antara jarak dan juga kecepatan kendaraan. Entah apa yang sebenarnya aku kejar. Sambil mendengarkan musik, aku menikmati sore kala itu. Sesekali, celoteh mengikuti iramanya dan terbuai sepanjang jalan. Kau takkan sanggup mendengarnya walau hanya sekejap, aku jamin itu. 

Saat itu, aku tidak bisa mengukur berapa kecepatan laju motor. Prediksiku, 60-70 KM/jam. Sungguh tak mungkin lebih dari itu karena motorku keluaran lama. Spedometer pada motor sudah lama tak berfungsi entah karena aki atau masalah mesin lainnya. Aku sudah ikhlas. 

Dan setengah perjalanan berujung selamat hingga akhirnya begitu cepat kejadian itu terjadi. Tersadar, badan kecilku jatuh dan terlempar lumayan jauh dari motor. Lagi-lagi aku kurang waspada yang berujung bentrok dengan aspal jalanan. Badanku tegak berdiri segera sambil melihat sekitar. Berharap baik-baik saja dan cepat-cepat menepi. 

Aku melihat sekitar dan cukup kesal dengan motor di depan, karena aku berusaha menghindarinya. Motor belakang juga ternyata jatuh dan sudah bisa ditebak remnya tak sampai. Namun dengan menerima keadaan menurutku jauh lebih tenang. 

"Qadarullah. Alhamdulillah masih di kasih hidup." Ucap lirih dalam hati 

Beberapa orang berkumpul dan bertanya tentang kondisi badan. 

"Gimana, ada yang luka?" 

Aku menggeleng. Memang tidak ada rasa perih yang begitu berarti buktinya bisa berdiri. 

"Masih bisa balik ke rumahkah bu?" seseorang lain bertanya

"Masih, gak papa kok. Saya masih kuat." imbuhku 

Luka di beberapa titik membuatku meringis setengah perjalanannya lagi. Aku berusaha menepi tak jauh dari tempat kejadian karena adzan berkumandang. Sengaja juga sambil mengintip beberapa bagian tubuh yang mulai nyeri. Ternyata sakitnya baru terasa. 

Kupaksakan kuat agar tiba dengan selamat. Sepanjang perjalanan menimbang-nimbang karena ada projek dadakan yang harus dikejar 2 hari lagi. Kufikir pasti ummi -ku sebut ibuku- melarang dengan kondisi yang tidak lagi baik-baik saja. Atau menyembunyikan luka sambil menguatkan diri agar projek itu bisa terselesaikan. 

Apa yang kamu fikir? hehehe 

Ternyata, aku benar-benar sadar saat tiba di rumah. Aku seperti kembali hidup saat tangis itu pecah pasca sapaan lembut ummi. Suaranya tidak membentak atau keras. Seperti sapaan di pagi hari yang kini menjadi ritual. 

"Pau!" 

Suara itu terdengar sangat hangat. Seperti rumah tempat kembali dari banyaknya peperangan. Seperti obat dari segala pelipur lara. Seperti kehangatan dalam buaian. Seperti tempat penerimaan tanpa bertepi. 

"Babang jatuh pau. Jangan marah ya, soalnya sakit semua dan berdarah." ku sebut diriku babang. 

Setelahnya, beliau memapah dan memeluk erat seraya berucap, "enggak, ummi gak marah. sini diobatin. masuk ke dalam." 

Beribu sakit yang orang lain tancap, aku tahu aku akan tetap hidup dengan obat cuma-cuma yang Allah amanahkan kepada diri ini. Ummi pau. 




Komentar

Postingan Populer