Minimnya Ilmu, Kurangnya Pengertian
Beberapa waktu lalu, aku melihat video singkat yang bercerita tentang seorang wanita yang sudah menikah. Beliau menceritakannya melalui cuplikan foto-foto yang menjadi pengingat kejadian masa lalunya. Kurang lebih beliau menceritakan bagaimana beliau mempunyai keinginan yang sangat besar untuk menjadi tamu undangan Allah menuju Mekkah.
Butuh waktu lama, sedikit demi sedikit disisihkan sebagian besar uangnya sebagai tabungan untuk mewujudkan impian. Bahkan dalam ceritanya beliau rela untuk menahan banyak keinginan termasuk menyederhanakan makanannya demi bisa menabung. Beliau menyampaikan keinginan serta tabungan yang dimilikinya kepada sang suami dengan maksud agar mendapatkan support dari suaminya.
Setelah kejadian tersebut, sang suami malah kerap mengajukan permintaan agar tabungan sang istri bisa dipinjam untuk melunasi hutang dari bisnisnya yang sedang tidak baik-baik saja. Awalnya enggan, namun luluh juga. Dan hilang sudah tabungan dari mimpi wanita ini sedikit demi sedikit.
Singkat cerita, ternyata diketahui uang yang selama ini dipinjami oleh sang istri bukanlah untuk melunasi hutang dari bisnis melainkan untuk membayar korupsi yang dilakukan oleh sang suami di kantornya. Sang suami juga melakukan judi serta bermain di belakang dengan wanita lain. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Kejadian nahas tersebut menyisakan perih yang mendalam.
Pelan-pelan wanita ini mulai menghapus mimpinya menjadi tamu undangan Allah. Pupus sudah dan kini ia harus terima jika tidak ada kemungkinan untuknya. Banyak kecewa terutama pada hidupnya. Ia kerap bertanya kenapa harus dirinya dari banyaknya orang-orang di dunia. Kecewa bahwa Allah segitu kejam hingga tidak bisa mengabulkan doa-doanya.
Kamu tahu, cerita beliau tidak berakhir. Seperti firman cinta Allah kepada setiap hambaNya, "Jika engkau berjalan ke arahKu, maka Aku berlari menujumu.". Dan tidak ada satupun makhlukNya yang bisa menghindari dari segala ketetapan yang telah tertulis. Jawaban doa-doa beliau terjawab begitu indahnya.
Banyak kesempatan yang tidak disadari mendekatkan dirinya pada sesuatu yang menjadi keinginannya selama ini. Beliau diberikan kemampuan setelah cobaan panjang yang Allah tempa padanya. Allah buat beliau kecewa dan menangis agar hanya orang baik saja yang menemaninya. Allah pilih dia untuk diberikan cobaan agar beliau menjadi tamu undanganNya di waktu yang tepat dan di saat semuanya siap karena kini beliau mampu menunaikan umrah. Bukan saja satu kali, namun setiap tahun di saat beliau ingin melaksanakannya.
Apakah kamu tahu, betapa cintanya Allah terhadap setiap hambaNya?
Jika kamu tahu betapa sayang dan cintanya Allah kepada kamu dengan mengatur semua urusanmu, niscaya kamu akan menangis sepanjang malam dan tak berhenti tersedu. Niscaya kamu akan meleleh dan jauh lebih bersabar dengan apa yang terjadi saat ini. Niscaya kamu akan menerima dengan senyuman segala ketetapanNya dan bersyukur atas yang terjadi di masa lalu.
Akhirnya aku paham, aku minim akan ilmu dan kurang pengertian.
Aku kerap bertanya, kenapa aku belum memiliki pasangan. Jawabannya, karena Allah lebih tahu dibanding diri aku sendiri. Bukankah dengan itu, semakin lama sujud yang dilakukan?
Aku kerap bertanya, kenapa saat ini rezekiku cukup hanya untuk diri sendiri. Jawabannya, karena Allah lebih tahu dibanding diri aku sendiri. Bukankah dengan itu ada mimpi yang bisa dikejar sehingga ikhtiar dan tawakkalnya lebih kencang dilakukan?
Aku kerap bertanya, kenapa orang lain terlihat bahagia dengan keluarga kecilnya sedangkan aku tidak. Jawabannya, karena Allah lebih tahu dibandingkan diri aku sendiri. Bukankah dengan itu aku hanya mengadu dan ketergantungan pada Allah?
Apapun yang membuat kita semakin dekat dengan Allah, maka yakinlah bahwa hal itu bagian dari proses terbaik yang sedang disiapkan. Jika lelah, beristirahatlah, adukanlah, merendahlah, berbagilah sehingga sembuhmu menjadi rahmat.
Benar-benar mengagumkan keadaan seorang mukmin. Segala urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)


Komentar
Posting Komentar