Cinta itu Sakit dan Pengorbanan
Ummi kakinya terseok-seok saat ini jika berjalan. Saat aku tanya, beliau menjawab enteng sekali,
”ya mau
bagaimana lagi? Cita-cita anak Ummi masih panjang. Gak kerasa kok sakitnya demi
sekolah anak ummi!”
Sambil
berjalan kearah pintu saat mempersiapkan diri menuju toko. Air mata aku
menggenang, sesak di ujung mata. Berusaha kuat agar ummi tahu bahwa aku bahagia
dan bangga memiliki ibu sepertinya. Aku juga akan berusaha bangga menjadi anak
pertama di keluarga.
Aku tidak
bisa membayangkan betapa sakitnya dipaksa kuat karena keadaan. Tetapi dari ummi
aku belajar bahwa cinta adalah pengorbanan dan sakit yang harus dirasakan. Sungguh
seluruh ibu yang mengasihi anaknya dengan baik merupakan pantulan cermin di
dunia bahwa cinta itu sakit dan dipenuhi pengorbanan.
Seringkali jika kita ditanya, “apakah kamu cinta dengan Allah? Segera kita menjawab,”iya dong!” Namun bagaimana dengan pembuktian cintamu? Sejauh apa rasa cintamu tanpa disertai dengan pengorbanan? Karena pembuktian berasal dari pengorbanan dan tindak nyata pada perilaku.
Maka benar
firman Allah,
“apakah
kamu mengira tidak akan diuji setelah kamu nyatakan diri beriman?” QS Al
Ankabut :2
Kurang lebih
jika diterjemahkan dengan bahasa kini,
“kalo beneran
cinta, buktiin doong!”
Maka seseorang
bisa melihat cinta dari orang lain saat orang tersebut melalui ucapan dan
tindakannya seirama, konsisten, dan telaten. Serupa dengan pernyataan iman kita
yang harus disertai dengan lidah yang mengucap ‘Amantu billah”, tindakan yang
dilakukan sesuai dengan perintah dan menjauhi laranganNya, serta konsisten
seakan-akan Dia Melihat apa yang kita lakukan.
Di dalam
perjalanannya akan banyak kerikil kasar dan tajam. Banyak pengorbanan jiwa dan
perasaan untuk pernyataan cinta kepada Allah. Berjamaah menjadi salah satu
kunci agar kita selamat dari ujian karena tentu banyak tangan pertolongan. Haus
akan ilmu menjadi kunci lainnya, karena kesadaraan yang berdasarkan ilmu tentu
banyak maklum disana.
Penulis,
jauh dari kata cinta karena sering sekali terpeleset jatuh. Namun kita hanya
manusia lemah dan mudah lengah sehingga bangkit kembali yang diperlukan setiap
luka di dalam perjalanan.
WaAllahu’Alam
bishowab

Komentar
Posting Komentar