Definisi Cinta dan Keyakinan
Katanya bulan februari adalah bulannya cinta.
Semalam tidur lebih lama karena melakukan obrolan dengan adik paling kecil yang saat ini sudah tidak kecil lagi. Kondisi ini jarang-jarang dilakukan karena memang kami jarang mempunyai waktu luang secara bersamaan. Tetapi setelah dia memasuki perkuliahan tatap muka dan saat ini sedang liburan, waktu tidur bersama menjadi salah satu waktu yang menyenangkan untuk bertukar cerita.
Entah cerita apa yang memulai kami untuk mendeskprisikan “cinta” hingga ada obrolan seperti ini,
“Menurut aku yang aku tonton dari video ust felix kalo kasihan adalah bentuk cinta dengan tingkatan tinggi. Yang tidak melihat fisik, rupa, jabatan, harta. Semua dilakukan karena memang perlu dilakukan dan tidak perlu punya hubungan atau ikatan sehingga kita bisa kasihan.” kataku sambil memandang langit-langit kamar
Adik aku menampakkan raut tidak setujunya,
“Kalo kasihan itu bukan cinta mbak, dia perasaan gak tega aja. Sedangkan kalo cinta itu harus menggunakan perasaan dan rasa suka. Mana ada bilang cinta tapi dia gak suka. Mana ada cinta tapi cuma di mulut aja, itu bukan cinta namanya.”
Kemudian aku terdiam sejenak untuk mencerna ucapannya barusan. Ada kalimat yang aku setuju untuk itu dan sebagian lagi tidak. Memilah kata yang tepat untuk tidak menyakiti karena sifat adik aku yang lebih lembut sembari menggerakan badan untuk melihat matanya.
“Ada benarnya dek, tapi Allah itu bisa cinta loh sama hambaNya tanpa suka. Malah kadang kita melampaui batas, melakukan hal-hal yang tidak disukai, tapi rahmat Allah gak pernah putus. Dan rahmat Allah itu adalah cinta Allah.” aku berucap meyakinkan.
“Tapi dek," ujarku melanjutkan kalimat sebelumnya
"Ternyata benar ya… cinta itu harus dibuktikan. Makanya ada wanita yang yakin untuk dinikahi oleh laki-laki bukan karena rasa sukanya, tapi karena antara ucapan dan tindakannya sinkron sehingga dia yakin. Sama dengan Iman yang harus diyakini dengan hati, kemudian diucapkan melalui lisan serta diikuti dengan tindakan.” ucapku.
“Nah, baru aja aku mau ngomong gitu mba. Aneh makanya kalo ada orang yang bilang cinta, tapi antara ucapan sama tindakannya tidak sama. Bilang cinta tapi gak pernah melakukan tindakan yang menunjukkan cinta. Aneh, kalo bilang cinta sama Allah dan beriman sama Allah tapi di mulut saja. Sedangkan tidak melakukan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang.” kata adik aku.
Kami saling menatap dan tersenyum. Akhirnya malam tadi, ditutup dengan pemikiran yang sama. Tidak ada perdebatan dari pendapat kami yang berbeda. Dan lagi tangan kami bertaut sebelumnya akhirnya kami berdoa untuk beristirahat mengakhiri hari.
Cinta memang banyak ragamnya, namun untuk meyakinkan sebuah cinta bukan hanya sekedar ucapan melainkan diikuti dengan tindakan nyata. Seperti arti iman itu sendiri. Jadi, sudah seberapa besar cintanya kepada Allah? Uhuk…

Komentar
Posting Komentar