Waktu Indonesia Bagian Berkontemplasi
Banyak yang sedang bersarang di kepala. Kadang muncul kadang tenggelam dengan aktivitas harian. Alhamdulillah, syukurku karena berkurang apa yang harus difikirkan.
Kemarin,
ummi mengajak berdiskusi dan berfikir lebih dalam menggunakan hati kecil.
Namanya nurani, sifatnya jujur tidak suka berbohong, murni dan tidak pernah
berdusta. Tapi beberapa waktu terakhir jarang dikedepankan dan memilih
perasaan. Yah namanya juga manusia biasa ditambah kadar iman yang naik dan
turun.
Pertanyaan
yang beliau sampaikan cukup menggelitik, “jika ada manusia atau makhluk di
dunia, siapa yang paling sayang sama kamu mbak?” aku terdiam menunduk. Dihajar dengan
pertanyaan selanjutnya, “coba tanya sama nurani mbak, adakah benar untuk
tindakan yang mbak lakukan?” kemudian aku menarik nafas berat dan posisinya
masih sama yaitu menunduk pasrah. Nurani pada awal kerap mengingatkan tindakan
ini tidak pernah benar tapi sering kali aku sambat.
Jika ada
manusia yang rela berkorban untuk hidup diri kita, itu hanya seorang ibu. Manusia
yang tidak pernah mengeluh atas semua penderitaan yang terjadi karena kita. Manusia
pertama yang tersenyum saat kelahiran kita menangis dan manusia pertama yang
akan khawatir tentang masa depan. Manusia yang rela bertarung dan mempertaruhkan
nyawanya untuk kita, tidak perduli akan sehebat kita nantinya. Maka tidak ada
alasan yang layak untuk menolak semua pernyataan dan permintaannya.
Jika anaknya
akan jatuh ke dalam jurang, maka beliau lah orang pertama yang menyelamatkan sekalipun
tindakannya berakibat luka. Seluruh kekuatan mungkin akan dikumpulkan untuk
menarik kita menjauh dari jurang itu. Tapi kerap kali, sebagai seorang anak
menganggap ibu adalah sosok jahat yang tidak pernah peduli karena adanya sedikit
luka akibat tarikannya. Maka nikmat mana lagi yang akan kamu dustakan? Syukur dan
kesadaran kita yang kerap berkurang seiring banyaknya nikmat dunia.
Duhai ibu,
engkau cinta pertama dan bukti kasih sayang Allah yang hingga saat ini kita
rasakan. Terima kasih sudah hadir walaupun kerap kita beradu lidah untuk
mempertahankan ego masing-masing.

Komentar
Posting Komentar