Badai itu
Seharian hujan, kemudian esok hari digantikan dengan
matahari pagi. Indah sekali. Turun dari kasur karena melihat jam yang sudah
menunjukkan pukul lima. Waktunya bergegas gumamku. Tak ada lagi telat karena
aku butuh.
Sebetulnya kantuk masih melanda, tapi apa boleh buat
karena pagi ini aku mau datang tepat. Semalam suntuk aku mendengar kata-kata
yang beberapa kali terucapkan olehnya. “Tak percaya diri” itu ternyata
penyakit.
Beribu semangat pun tak akan menggoyahkan kepercayaannya.
Karena sugesti diri yang membuat nilai pribadinya rendah. Padahal aku yakin,
dia orang hebat. Betapa malang melihat sosok anak gagal untuk memperlihatkan
kehebatannya pada dunia.
Aku tahu, badai itu pasti datang!
Kemudian aku kembali pada kenyataan, melanjutkan
rutinitas. Guyuran air pertama di pagi ini beda, cukup dingin. Aku sedikit
bergidik. Di guyuran pertama ini aku merasa ada kekuatan lagi.
Badai boleh menerpa, tapi yakinlah Allah menetap. Akan
ada satu titik setelah usaha begitu hebat, pasrah. Karena hal-hal tidak semua
terjadi sesuai dengan kemampuan kita, hingga hanya “tangan Allah” yang
menggenapinya. Biar Allah yang menyelesaikannya untuk kita. Terima kasih karena
rasa ini datang kembali. Rasa berserah setelah usaha hebat sebagai manusia
hina.


Komentar
Posting Komentar