Surat hari ini


Jika kamu sempat membacanya, aku ucapkan terima kasih. Hidup orang diibaratkan dedaunan pada pohon. Ada yang berguguran di awal, di tengah, atau menemani hingga akhir. Yang gugur di awal, bukan hilang dari muka bumi. Hanya terpisah dari pohon dan melanjutkan kehidupan barunya.

Ini hanya masalah waktu bukan?

Agak egois menahan daun yang gugur diawal untuk menetap hingga akhir. Disamping itu, setiap daun mempunyai waktu dan rencana yang berbeda yang telah ditetapkan. Akan lebih baik mengikhlaskan daun untuk melanjutkan hidup barunya. Aku yakin, dia akan menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.

Dear kamu,

Satu persatu, dan aku mulai merasa sepi. Tapi tenang, kenangan manis itu akan selalu ku simpan. Aku sedang belajar ikhlas dan tetap tenang apapun yang terjadi. Kita hanya perlu melanjutkan hidup untuk menjemput matahari setiap pagi dan menyapa rembulan pada malam. Padahal, nurani aku berkecamuk hebat. Ada riuh yang tinggi dan rendah menderu, membuat mata kadang perih. Aku benci untuk sakit. Aku selalu ingat kata-kata ustadz, “ Sakit, kesedihan, air mata, kekhawatiran adalah penawar untuk dosa-dosa.”





Komentar

Postingan Populer