Anti Social or Pandemic?
Anti Social or Pandemic?
Maha Besar Allah dengan segala kuasaNya, kalimat pertama saat pandemic itu
menyerang wilayah kami. Beberapa sector sudah mulai untuk melakukan lockdown
sebagai antisipasi perlindungan diri dari virus tersebut. Waktu anti social yang
sesungguhnya dimulai. Jika sebelumnya orang-orang anti social karena gadget di
tangan, maka saat ini orang-orang anti social karena dipaksa keadaan.
Beberapa orang sudah mulai mengurangi intensitas bersentuhan secara
fisik, bahkan berjaga jarak untuk menutup kemungkinan. Beberapa orang sudah
menggunakan masker, untuk mengurangi kemungkinan terjangkitnya virus yang bisa
saja hidup melalui perantara udara yang kita hirup. Beberapa orang mencuci
tangannya setiap selesai kegiatan untuk menangkal virus yang berada di tangan. Maha
Besar Allah, Allahu Akbar!
Tiada kuasa kecuali milikmu ya Rabb. Semudah itu jika Engkau
berkehendak. Semudah itu Engkau mengubah kuasa suatu kaum yang kuat menjadi
lemah tak berdaya. Semudah itu Engkau menarik sedikit nikmat yang dahulu
diberikan secara cuma-Cuma. Tiada henti kecuali aku ucapkan masyaAllah. Aku kembali
berdecak kagum dengan ciptaanMu kali ini ya Rabb.
Dahulu kegiatan antisipasi yang manusia lakukan saat ini dianggap sebuah
kegiatan yang sia-sia. Namun dengan kuasaMu engkau ciptakan Islam kembali jaya.
Engkau perintahkan kepada kami agar tidak bersentuhan kecuali sesama mahromnya,
Engkau yang memerintahkan kami untuk menutup apa yang seharusnya ditutup,
Engkau yang mengharuskan kami berwudhu sebelum solat ditunaikan. Maka kami
sebagai umat muslim sudah mengerjakan sedari dulu.
Namun aku sedikit sedih, melihat beberapa masjid mulai lengang dari
pijakan manusia hina. Ada sedikit keengganan sesame kami untuk menyapa
saudaranya dengan jabat tangan sebagai penggugur dosa. Ya rabb, kami mohon
jangan timpa kami dengan cobaan di luar batas kesanggupan kami. Kami masih
rindu untuk mengadu di rumahMu atau sedikit meneduh di kala hujan turun waktu
itu. Kami masih rindu untuk berjabat tangan seperti melepas beban dan
kekecewaan antar sesama. Jakarta, 16 Maret 2020.


Komentar
Posting Komentar