Dear Hantu
Aku meminta maaf karena begitu penyebutannya. Pernah kamu mendengar jelangkung, yang datang tidak dijemput dan pulang tidak diantar? Kurang lebih begitu aktivitasmu yang datang tanpa isyarat dan pergi sesuka hati.
Pergi kemudian kembali merobohkan pertahanan hati yang
dibangun setelah pecah dari mengikhlaskan. Begitu rutinitas itu berulang kali
terjadi. Luka itu bukan satu, bahkan mencari tempat yang masih utuh. Bukan kah
sosokmu jahat?
Aku yakin, kamu datang kepada target sosok yang mudah
dikenali. Sosoknya tidak jauh dari kata baik, tulus, polos dan belum mengenal
sayang. Bahkan kadang figur yang diimpikan oleh sosok tersebut, kemudian kamu
menjelma kedalamnya. Sosok yang diharapkan bisa mengisi kosong dirinya.
Sosok yang menjadi targetmu kini menjadi korban, namun
perlahan kamu menghindar dan menjadikan dia pelaku kejahatan. Kamu menghindar
setelah mencicip nikmatnya sebuah luka berbalut suka yang kau tawarkan. Tanpa
kamu sadar sebutan "baper" tersemat pada dirinya. Memang dunia kadang
tidak memberi tempat untuk melihat kebenaran.
Tenang, kebaikan hanya berbalas dengan kebaikan. Dan
begitu juga dengan kejahatan. Sunnatullahnya memang begitu. Bukan hasil
panjatan doa korbanmu dalam setiap sujudnya. Bukan! Itu semua akumulasi ikhtiar
keburukan yang kau tebarkan.
Dear Hantu,
Aku hanya mencoba mengingatkan lewat tulisan. Kamu hidup
di dunia tidak pernah sendirian, lengkap dengan saudara, keluarga serta sosok
yang kamu sayang tulus. Tidak kah kamu berfikir mungkin mereka bisa menjadi
korban dari kelakuan sejenis dengan hantumu?


Komentar
Posting Komentar