Langsung ke konten utama
Dear Future
Jika kamu membaca tulisan ini, ku ucapkan terima kasih untuk
waktu yang akan habis.
Mungkin kamu melihat sosok aku yang tegas, keras, dan juga
seringkali egois. Namun kadang aku memilih cair, lebur dan lembut hanya di
depan beberapa orang terdekatku. Mereka adalah orang tersabar dan terbaik yang
pernah aku miliki. Dipilih langsung oleh Allah untuk menemani kehidupan wanita
keras ini.
Future, jika kamu berfikir bahwa aku keras itu benar adanya.
Aku lahir dan terbentuk dari apa yang aku lihat, dengar, rasakan, pengalaman,
cerita, teman dan juga kamu. Dan beberapa orang berkata aku cukup nakal. Tapi
dibalik gagah dan perkasa yang sering aku perlihatkan, aku adalah sosok yang
banyak sekali takut, resah, dan putus asa.
Aku tak takut dengan ular seperti kebanyakan wanita, atau
mungkin kamu mengira aku takut kecoa. Tapi kenyataannya tidak. Aku lebih takut
jalan sendirian di depan banyak lelaki memandang. Itu menjadi penyebab mengapa
aku tak mau sendirian untuk berpergian. Jadi aku akan memilih berdiam dibanding
harus pergi. Dalam setiap perjalanan yang ku lakukan, selalu ada teman walaupun
terhitung satu juga.
Aku takut untuk memandang mata lelaki untuk sekedar menatap
atau bercengkrama dengan satu atau dua patah kata. Itu sebabnya teman lelakiku
amat sedikit. Aku menjaga jarak dengan mereka dan memilih bergaul dengan
sesama. Bukan karena aku penyuka sesama, tapi aku memilih terhindar dari rasa
takutku. Makanya untuk sebagian lelaki mereka melabeli diri ini dengan sombong.
Maafkan wanita ini, tak ada maksud.
Ada satu rasa takut yang cukup aneh, aku takut untuk menyakiti
dan mengecewakan orang lain. Kadang hidup bagaikan lilin yang menyakiti dirinya
untuk menerangi orang lain. Aku takut setiap orang menderita karenaku. Wanita ini
terlihat mandiri agar orang lain tidak kesusahan dan berusaha terlihat
baik-baik saja dengan apa yang terjadi.
Hufh, jujur wanita ini malu untuk menuliskan semuanya. Jadi aku
akan menutup cerita sebagian ini di sini.
Komentar
Posting Komentar