sujudku
Bahkan aku
tidak menangis semalam, tetapi perihnya mata seakan meneteskan air mata semalam
suntuk.
Jadi apa yang
terjadi dalam 6 bulan belakangan terakhir adalah palsu. Seharusnya dari awal
paham dan sadar bahwa apa yang ditulis oleh tangan tidak pernah menggunakan
hati. Aku rasa, aku yang terbawa perasaan sendirian.
Sedih?
Iya, tentu
saja.
Kecewa?
Sudah pasti, hal
itu tidak perlu diragukan lagi.
Jika sudah
begitu, dalam setiap sujud aku menangis. Momen sujud adalah momen yang paling
indah. Menangis dalam keadaan seperti itu akan lebih sulit dibanding untuk
dilakukan pada gerakan lainnya. Tapi dalam sujud, ku merasa seperti bisikan itu
terus seakan mengiang. Menguatkan bahwa apa yang terjadi dalam kehidupan adalah
sebuah sunnatullah.
Yang saat ini
sedang dilanda gundah gulana, niscaya sirna pada waktunya.
Yang saat ini
tengah ditimpa musibah, niscaya akan diganti dengan berkah
Yang saat ini
mungkin sedang dalam bahagia, niscaya ia mengalami duka jua.
Gerakan sujud
adalah gerakan terendah dari seorang hamba. Dalam doanya “Mahasuci
Allah, Tuhanku Yang Maha Tinggi, dan aku sujud’ dengan memuji-Mu”. Maka dalam gerakan sujud, ada sebuah pengharapan, pasrah dan
pujian. Rasanya seperti dipeluk hangat dan dikuatkan.
Mungkin Allah
sedang cemburu. Itu sesuatu yang terus bergema dalam pikiranku saat ini.

Komentar
Posting Komentar