Refleksi Senja
![]() |
| senja di langit Bogor |
Tulisan ini aku buat saat senja menjemput
paginya untuk usai. Digantikan tugasnya sebagai pengingat batas lelah manusia
untuk sekedar rehat. Waktu yang cukup panjang, untuk mempersingkatnya aku ketik
beberapa yang mengganjal dipikiran. Jangan berharap jika tulisan ini akan
sempurna untuk dibaca. Aku membutuhkanmu untuk sekedar kau tengok.
Ada kata “senja” yang sering kubaca
beberapa hari ini. Namun seringkali penulis menganggapnya sebagai sebuah tanda
untuk berhenti dan lebih menyukai pagi. Allah berfirman dalam surat kedua ayat
164, menerangkan bahwa Allah lah yang menciptakan pergantian antara siang dan
malam. Pergantian siang dan malam, pada keduanya terdapat tanda-tanda kebesaran
Allah bagi kaum yang berfikir. Senja takkan tiba jika pagi belum usai, begitu
juga dengan pagi takkan temaram jika tak senja menjemput.
Aku tak menyukai pagi tanpa senja, itu
artinya bumi diujung waktunya. Garis yang indah terbentuk refleksi dari
matahari yang pamit ke peraduan. Warnanya orange memantul dan mewarnai garis
bawah putih awan di langit yang dimulai dari kebiruan. Sedikit demi sedikit
berubah menjadi jingga. Warnanya indah dan membuat siapapun yang melihatnya
terpana mensyukuri bahwa diberikan mata yang begitu sempurna.
Merefleksikan senja menggunakan lensa
manusia, tidak bisa seindah tergambar oleh kedua buah mata. Tidak akan pernah
menggambarkan betapa luasnya senja di kala itu. Keindahan itu yang aku jadikan
hadiah dari sebuah senja dan kusuka. Tanpa aku bermaksud mengurangi indahnya
pagi di saat Allah memberikan kesempatan setiap hambaNya untuk melihat dunia. Apapun
itu, baik senja dan pagi aku cinta.


Komentar
Posting Komentar