Tangga Kehidupan
Ada rasa syukur tersendiri saat seseorang dapat menceritakan tentang
dirinya tanpa ragu kepada diri ini. Aku bukan seorang motivator atau seseorang
pemberi solusi terbaik. Aku juga tidak bisa menjanjikan menjadi seorang
pendengar yang baik saat seseorang tersebut bercerita kepadaku. Karena sesekali
aku menimpali dengan mengatakan “ aku pun demikian”. Jadi rasa-rasanya agak aneh jika seseorang
tersebut masih saja ingin bercerita kepadaku. Sedikit aku ungkapkan tentang
sebuah rahasia bahwa yang bercerita tentang dirinya kepadaku tidaklah sedikit.
Bahkan dengan leluasanya seseorang itu bercerita kepadaku secara
detail terkait masalahnya. Setelah panjang lebar ia bercerita, siapapun tidak
akan menyangka dirinya seterpuruk itu. Hal yang sama juga aku rasakan. Jauh dari
pikiran ini bahwa ia seseorang dengan setumpuk beban hidup yang mungkin akupun
tak sanggup untuk menanggungnya. Ia mengingatkan aku pada masa dimana titik
balik dari hidup ini pernah terjadi.
Masa sulit yang pernah terasa. Masa dimana aku tak ingin kembali jatuh
ke dalam lubang yang sama. Masa dimana aku harus berfikir beribu kali untuk
melakukan hal tersebut. Diantara beribu kekesalan itu, akan selalu ada tempat
kembali untuk setiap orang. Keluarga salah satunya.
Sebelumnya aku berfikir bahwa nasib buruk mempunyai keluarga seperti
ini. Buruk untuk mempunyai keluarga dengan sejuta peraturan. Untuk informasi,
keluarga amatlah agamis. Keluargaku bukanlah keluarga yang selalu damai tanpa
perdebatan. Jauh dari itu kata itu semua. Selalu ada perbedaan pendapat dan sengit
didalamnya. Namun semua berbeda jika kita memandang dari sudut lainnya. Dan
hap, semua berubah semenjak pandanganku berganti dipenuhi hal baru mengenai
sosok ini.
Sosok yang menjadi malaikat dikala susah maupun senang ialah Ibu. Disaat
aku jatuh, beliaulah yang bangkit terlebih dahulu. Dikala aku putus asa, ibulah
yang terlebih dahulu semangat. Di waktu aku bersedih, ialah yang tersenyum
mendahulu senyum ini. Aku pernah menangis waktu itu dan mengatakan “ mi… aku
rasa aku capek. Aku rasa aku pengen udahan aja”.
beliau seketika menjawab, “ Nikmat Tuhan mana yang layak kamu dustakan?”
deg, seketika tersentak hati ini.
Kemudian beliau melanjutkan, “ Ummi gak pernah malu dan merasa putus
asa punya anak seperti mbak. Jadi jangan pernah berputus asa akan rahmat Allah.
Besok kita coba lagi ya”.
Usai itu semua, aku merasa akan selalu ada tempat kembali. Tangga
kehidupan itu akan selalu menanjak dan menurun dilihat dari 2 sisi yang
berbeda. Berat bebannya tidak akan pernah sama namun ringan jika dijalani
bersama dan kembali pada keluarga.
Satu pemikiran yang saat ini terlintas, keluarga merupakan pondasi
utama untuk setiap insan. Keluarga membentuk karakter tiap pribadi yang
diibaratkan tubuh untuk menaiki atau menuruni tangga kehidupan. Ia bisa rapuh
dan terjatuh. Ia bisa merasa lelah. Ia bisa menjadi latihan untuk menjadi kuat
lagi. Semua tergantung kondisi dari tubuh itu yang dibentuk oleh keluarga.


Komentar
Posting Komentar