Little Monster
Ada dua pembahasan yang melekat di kepala. Yang pertama pembahasan energi "feminisme" yang sekarang sedang digaungkan oleh banyak pihak. Sebenarnya, energi feminisme ini dikenal dengan tawakkal. Bagaimana energi yang kita miliki berpusat pada apa-apa yang mampu kita kontrol. Contohnya, kedisiplinan atas apa-apa yang akan kita tuju, belajar sebaik mungkin dan menghindari apa-apa yang membuat kita gagal, mencari tahu dari pengalaman orang lain sebagai celah guna meminimalisir kegagalan, berlatih sebaik mungkin sendiri maupun dengan orang lain. Tentu semua itu pengupayaan yang bisa dilakukan berfokus pada diri sendiri. Maka, self love dan self control kita akan lebih akurat. Sedangkan reaksi dari apa-apa yang kita usahakan, itu di luar dari kendali kita. Kita diminta untuk memperbaiki dan menyiapkan diri dengan matang sehingga mendatangkan apa-apa yang baik.
Energi feminim itu seringkali dikaitkan dengan perempuan yang kuat dengan tekad memperbaiki apa-apa yang ada pada diri mereka. Kenapa energi ini harus dimiliki oleh seorang perempuan, karena mereka lahir dominan dengan perasaannya. Banyak ayat quran membahas bagaimana Allah menyelamatkan perempuan dengan kelembutan. Dengan dominasi perasaan itu, maka energi feminim akan membantu. Kita melatih diri kita untuk percaya bahwa Allah sebaik-baiknya perencana. Dan apa-apa yang sudah diserahkan kepada Allah, maka sepatutnya kita percaya. Percaya artinya sama dengan berserah. Dengan berserah berarti kita tidak memiliki keraguan atas kuasa Allah.
Selain itu, melatih diri dengan energi feminim atas takdir Allah maka secara tidak langsung kita melatih diri untuk percaya pada kemampuan terbatas dari pasangan. Kita diminta untuk tetap tenang dan memperbaiki diri dengan lebih dekat kepada Allah. Maka tak heran ada pepatah yang mengatakan bahwa seorang laki-laki berjuang di dunia, dan perempuan berjuang dengan tirakatnya lewat jalur langit. Masing-masing memiliki kontribusi yang sama-sama besar dalam menjalankan perintah Allah.
Bahasan selanjutnya, tentang "parenting". Dari seorang ibu yang datang di siang itu bersama kedua anaknya, aku belajar banyak. Seorang anak yang disebut dengan monster hari ini, belajar dari monster sebelumnya. Kita kerap bertanya kenapa anak saya bersuara sangat keras tanpa mengingat bagaimana cara dia didik oleh orang tua. Kita juga berkeras mengubah anak, padahal kita lupa bahwa dia adalah cerminan kita.
Seorang ibu yang siang itu berteriak kepada kedua orang anaknya, suatu hari akan ada di titik lemah dan bertanya kenapa anaknya bernada tinggi. Mereka hanya cermin bagaimana kualitas parenting yang dimiliki oleh ibu dan ayahnya. Saat itu aku hanya terdiam dan langsung mengambil alih kedua anak kecil tersebut dan mengajaknya bermain. Anak-anak yang berada pada usia 1-5 tahun hanya berada di fase eksplorasi. Mereka banyak mencari tahu, mereka banyak menyerap ilmu dan pengetahuan serta skill. Maka, usia tersebut, kita diminta untuk banyak belajar untuk bereksplorasi serupa. Ikut bermain pada dunia hayal mereka sehingga mereka akan selalu memiliki ingatan bahwa ada ibu dan ayahku di sana.
Seorang ibu yang siang itu berteriak kepada kedua orang anaknya, suatu hari akan ada di titik lemah dan bertanya kenapa anaknya bernada tinggi. Mereka hanya cermin bagaimana kualitas parenting yang dimiliki oleh ibu dan ayahnya. Saat itu aku hanya terdiam dan langsung mengambil alih kedua anak kecil tersebut dan mengajaknya bermain. Anak-anak yang berada pada usia 1-5 tahun hanya berada di fase eksplorasi. Mereka banyak mencari tahu, mereka banyak menyerap ilmu dan pengetahuan serta skill. Maka, usia tersebut, kita diminta untuk banyak belajar untuk bereksplorasi serupa. Ikut bermain pada dunia hayal mereka sehingga mereka akan selalu memiliki ingatan bahwa ada ibu dan ayahku di sana.
Dan terima kasih banyak kepada orangtua yang memutus rantai monster tersebut. Begitu juga dengan aku yang bangga lahir dari seorang ibu pemutus rantai monster itu yang melahirkan dengan kecakapan dan kemampuan. Thanks to ummi pau, jazakillah khoir.
Tulisan ini tidak bersumber ya manteman, hanya refleksi dari apa-apa yang tertangkap mata serta akal

Komentar
Posting Komentar