Kebun Bunga Cantik Nan Rupawan


Ternyata kebun bunga yang terus menerus ditumbuhi bunga indah itu nyata adanya. jika kau bertanya letaknya dimana, letaknya sangat dekat dengan nadi. yaitu di hatiku. Ada baiknya sesekali aku berdoa agar kamu bisa melihatnya juga. Dan merasakan keindahannya dengan mata. 

Aku sengaja tidak membalas chatnya karena ribut sekali suara di kepala. Riuh berkepanjangan dari pagi dan reda di sore hari. Sengaja juga aku alihkan dengan merapihkan pakaian sambil berfikir mencari solusi. Tidak dibalas sekali, aku kira akan jera ternyata malah dipanggilnya melalui suara. 

"Tumben tidak berkabar, kenapa cantik?" 
"Enggak kenapa-kenapa. Aku cuma ingin diam" 
"Kesal kah manis? hayok kita makan, jajan apapun yang kamu mau." 

Rasanya ingin bermalas-malasan dengan kasur saja, tapi usahanya membuahkan hasil. Kami bertemu sekalian aku ingin berjumpa dengan kawan untuk sebuah urusan. 

"kamu temui temanmu, aku jajan ya." 

Aku tersenyum dan mengangguk. 

selang 10 menit kami bertemu kembali dan aku masih melihat dia tidak bergerak. 

"mana jajannya? katanya mau jajan..."
"aku nunggu kamu aja, biar kita bisa jajan bareng" 

Bunga mawar yang merona itu merekah berwarna warni. Aku belum pernah melihatnya. Sesekali aku berjanji akan melihatnya lagi dengan menawarkan pupuk khusus mawar. 

Berkelilinglah kami. Dipaksanya untuk membeli jajanan yang sebenarnya aku tidak minat untuk menyantapnya. Dia paham sekali tanpa aku bersuara karena tidak ada goyangan kepala. 

"Ayok kita cari lagi jajannya, aku nyari ATM dulu ya" ujarnya. dan aku kembali diam menunggu di luar. Hingga tetiba tangannya mengulurkan cokelat 2 batang hasil promo. 

"Satu buat kamu, satu lagi buat ibuku." 

Entah anggrek apa namanya, tapi sungguh indah sekali. Senyum aku merekah semalaman aku rasa. Dan kembali berjalan menyusuri jalan hingga berhenti untuk memandangi pelan. 

"Pesan aja buburnya. Tapi 1 mangkok saja." 
"hmmm ga mau, itu kurang." jawabku enteng
"iya, nanti kita makan lagi, bareng." 

Ada konyolnya, mungkin sang penjual kesal melihat tingkah kami. Dia awalnya menghindar untuk makan bubur dari mangkok yang sama karena tahu pasti aku kurang porsinya. Tapi sengaja aku paksa untuk mencoba suapan pertama hingga berujung kosong. Besoknya, akan selalu begitu, aku memaksa dia mencoba hingga semuanya akan kita lalui bersama.

Sekelumit cerita indah aku tentang kebun bunga yang indah ini aku sudahi di sini. Takut pembaca mual karena tingkah kami. Salam hangat dari kebun bunga dan penikmatnya. 



Komentar

Postingan Populer