Ramadhan Karim

Perkembangan sosial media yang sangat pesat membawa diriku pada beberapa kondisi yang sebelumnya tidak pernah dialami. Pengibaratannya seperti katak dalam tempurung. Apakah salah? ada rasa syukur di dalamnya. 

Seperti kemarin, pada kolom komentar sebuah video aku menemukan banyak sekali orang-orang baik sengaja maupun tidak membagikan momen mereka tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. Alasannya banyak ada yang disebabkan oleh pekerjaan berat, keadaan sakit, atau alasan berkeliling untuk mencari baju lebaran. Mereka yang meninggalkan komentar seperti tidak mengesankan penyesalan. Seperti sudah biasa banyak maklumnya. 

Puasa sendiri perintah khusus yang ditujukan kepada orang-orang yang beriman seperti yang Allah firmankan "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa" ( QS. 2:183). Maka saat kita tidak menjalankan apa yang diperintahkan, malu sekali rasanya. 

Aku jadi teringat sebuah momen pada bulan ramadhan beberapa tahun lalu. Bulan Ramadhan saat itu aku harus masuk IGD karena sakit lambung yang cukup akut. Dokter menyarankan untuk tidak menjalankan puasa karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan. Namun hati kecilku terus berusaha mengatakan, "selama hal tersebut tidak membunuhku, maka sudah pasti menguatkan." Maka 3 hari aku menjalankan puasa dengan tetap meminum obat dikala berbuka dan sahur. 

Alhamdulillah bini'matihi tatimush sholihat. Allah Maha Pengasih yang memberikan aku privillege berada di keluarga yang agamis. Aku didik keras sejak kecil untuk membiasakan bahwa apa yang Allah wajibkan maka selamanya bersifat wajib walaupun orang lain tidak. Aku terbiasa untuk memaksakan diri untuk solat saat kecil walaupun aku tidak tahu apa yang harus aku imani saat itu. 

Kini saat dewasa, aku jadi paham kenapa harus menjadi orang tua yang bijak, intelek dan paham agama. Karena nasib bangsa kedepan yang dipenuhi anak muda tidak bisa terbentuk dengan sendirinya. Dia lahir dengan banyak pemaksaan dan akhirnya menjadi kebiasaan. Kelak, saat aku menjadi ibu akan kuusahakan anak-anak terbiasa untuk memaksakan diri dalam taat. Karena sungguh, dunia hanya sesaat dan bersisa akhirat. 

Anak-anakku boleh sekaya abdurrahman bin auf, namun tetap harus taat pada syariat. Boleh juga sekeren abu bakar as shidiq, namun tetap menjalankan apa yang wajib serta sunnah dan menjauhi apa yang haram dan makruh. 

Komentar

Postingan Populer